Hukum terkait lawan jenis

Terkait kita dengan lawan jenis, ada hukum muhrim dan non muhrim.

Salah satu hukum itu misalnya, dalam ajaran Islam kita dilarang untuk menyentuh atau bahkan melihat lawan jenis yang tidak muhrim (non muhrim), kecuali anggota tubuh yang bukan aurat. Begitu juga kita dilarang menikah dengan seseorang yang muhrim dengan kita.

Siapa saja yang muhrim dan non muhrim?

Seseorang yang lawan jenis dengan kita (jika kita laki-laki) bisa disebut muhrim jika:

Memiliki hubungan famili – yakni jika lawan jenis itu adalah:

  • Ibu, nenek dan selanjutnya ke atas.
  • Anak perempuan, cucu perempuan dan selanjutnya ke bawah.
  • Saudari.
  • Anak perempuan saudari.
  • Anak perempuan saudara.
  • Bibi, baik bibi kita sendiri (dari ayah dan ibu) atau bibinya ayah dan ibu (ayah dan ibu kita maupun ayah dan ibu istri).

Memiliki hubungan dikarenakan pernikahan – yakni jika lawan jenis itu adalah:

  • Ibu istri, nenek istri dan seterusnya ke atas.
  • Anak perempuan istri (misalnya anak tiri) jika sudah pernah berhubungan dengannya (dengan sang istri).
  • Ibu mertua, ibunya ibu mertua dan seterusnya ke atas.
  • Istri anak (menantu).

Ketentuan di atas juga berlaku kebalikannya bagi perempuan. Selain orang-orang di atas, semua lawan jenis adalah non muhrim, misalnya istrinya adik/kakak kita, saudari istri kita.

Jadi selain orang-orang tersebut hubungannya dengan kita adalah tidak muhrim, jadi kita tidak boleh melihat mereka jika tanpa hijab (jika mereka perempuan dan kita laki-laki), begitu juga sebaliknya.

Catatan: terkait saudari istri, meskipun saudari istri tidak muhrim dan seharusnya orang yang tidak muhrim dengan kita bisa dinikahi, untuk saudari istri ada pengecualian, yakni selama istri yang ada masih hidup atau belum diceraikan, kita tidak bisa menikahi saudari istri (kita tidak boleh menikahi dua wanita kakak beradik).

Hukum melihat lawan jenis

Saat seorang lelaki melihata perempuan, maka hukumnya:

Jika perempuan itu muhrim dengannya:

  • Melihat aurat (dalam artian kemaluan) maka hukumnya haram.
  • Melihat selain aurat (kemaluan) hukumnya tidak haram.

Jika perempuan itu non muhrim:

  • Jika hanya melihat wajah atau tangan hingga pergelangannya (yang tidak wajib ditutupi dalam berhijab) maka hukumnya tidak haram.
  • Jika melihat anggota tubuh lainnya yang harus ditutupi hijab maka haram hukumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *