Hukum berkenaan dengan mayat

Terkait orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut (hendak meninggal) hingga benar-benar meninggal sampai dikuburkan, ada hukum-hukum yang harus kita ketahui.

Hukum orang yang sedang dijemput ajalnya

Hukum berkenaan dengan orang yang sedang dijemput ajalnya, atau biasa dengan sebutan sakaratul maut atau ihtidhar adalah sebagai berikut:

WAJIB

  • Wajib bagi orang di sekitarnya untuk menidurkannya dalam posisi terlentang (punggung di bawah) menghadap kiblat, yakni kedua telapak kakinya menghadap kiblat.

MUSTAHAB

  • Dimustahabkan orang yang hendak wafat dibacakan dua syahadat, serta syahadat wilayah (kesaksian terhadap 12 imam).
  • Jika terlihat kesusahan saat sakaratul maut, hendaknya dibawa ke tempat ia biasanya shalat
  • Untuk memudahkan pencabutan nyawa, disarankan ia dibacakan surah Yasin, Shaaffaat, Ahzaab, Ayat Kursi atau ayat-ayat apapun dari Al-Qur’an selama memungkinkan.
  • Dibacakan doa-doa.

MAKRUH

  • Tidak dianjurkan meninggalkan orang yang ihtidhar (sedang dijemput ajalnya) sendirian.
  • Meletakkan sesuatu yang berat di atas perutnya.
  • Keberadaan wanita yang haid atau orang yang junub di sekitarnya.
  • Banyak berbicara di dekatnya.
  • Menangis di dekatnya.
  • Membiarkan orang-orang perempuan sendirian bersamanya.

Hukum terkait seseorang yang baru saja meninggal dunia

Berikut ini adalah hal-hal yang mustahab dilakukan sepeninggal almarhum

  • Menutup mulut dan matanya.
  • Mengikat dagunya.
  • Meluruskan kedua tangan dan kakinya.
  • Menyelimutinya dengan kain.
  • Jika meninggal di malam hari, hendaknya tempat ia meninggal diterangi dengan lampu.
  • Mengkabari orang-orang beriman lainnya akan kepergiannya.
  • Segera menguburkannya, kecuali jika belum yakin akan kepergiannya. Jika seorang wanita hamil, hendaknya bayi dikeluarkan dari perut sebelah kirinya lalu dijahit kembali.

Hal-hal yang wajib dilakukan terhadap mayat:

  • Memandikan mayat.
  • Memakaikan hanuth.
  • Mengkafaninya.
  • Menshalatinya.
  • Menguburkannya.

Memandikan mayat

Berikut ini hukum-hukum yang berkenaan dengan memandikan mayat:

  • Memandikan mayat wajib kifayah hukumnya. Yakni jika ada seseorang yang sudah melakukanya, maka kewajiban itu gugur bagi selainnya.
  • Mayat harus dimandikan dengan tiga macam mandi:
  • Mandi dengan air yang dicampuri sidir
  • Mandi dengan air yang dicampuri kafur
  • Mandi dengan air murni
  • Mandinya mayat tidak beda dengan mandi-mandi lainnya (memulai dari kepala, badan sebelah kanan dan badan sebelah kiri).
  • Campuran sidir dan kafur tidak boleh terlalu banyak agar air tidak menjadi mudhaf.
  • Untuk memandikan, mengkafani dan menguburkan mayat sebelumnya harus didapatkan izin dari walinya terlebih dahulu.
  • Suami boleh memandikan istrinya dan begitu juga sebaliknya, meskipun mustahabnya yang memandikan adalah orang lain.
  • Haram melihat kemaluan mayat saat memandikan.
  • Mengambil upah untuk memandikan mayat tidak diperbolehkan, lain halnya dengan pekerjaan-pekerjaan sebelum memandikannya.

Hanuth

  • Setelah mayat dimandikan, hendaknya mayat diberi hanuth, yakni kening, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung jari jempol kakinya dioles dengan kafur.
  • Mustahab ujung hidungnya juga dioles kafur.

Mengkafani mayat

Ukuran kain kafan yang wajib:

  • Kain pertama: seukuran yang bisa menutupi dari pusar hingga lutut.
  • Kain kedua: seukuran bisa menutupi dari pundak hingga betis.
  • Kain ketiga: seukuran bisa menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki.

Menshalati mayat

Setelah mayat dimandikan, diberi hanuth dan dikafani, mayat harus dishalati.

Tata cara menshalati mayat adalah sebagai berikut:

  • Berniat shalat mayat.
  • Takbir.
  • Setelah takbir pertama membaca dua syahadat.
  • Setelah takbir kedua membaca shalawat.
  • Setelah takbir ketiga membaca “Allahummaghfir lil mu’miniina wal mu’minaat”.
  • Setelah takbir keempat membaca “Allahummaghfir lihadzal mayyit” (jika laki-laki) atau “Allahummaghfir lihadzihil mayyitah” (jika perempuan).
  • Setelah itu shalat ditutup dengan takbir kelima.

Mengkuburkan mayat

  • Mayat hendaknya dikubur dengan kedalaman yang sekiranya baunya tidak menyebar dan tidak ada binatang buas yang bisa menggalinya.
  • Saat dikuburkan, mayat hendaknya dibaringkan miring dan menghadap kiblat dengan cara pinggang kanannya di atas tanah lalu wajah serta badannya menghadap kiblat.
  • Mayat Muslim tidak boleh dikuburkan di pekuburan kafir dan begitu juga mayat kafir tidak boleh dikubur di pekuburan Muslim.
  • Mayat tidak boleh dikubur di tanah ghasab (yang tidak didapatkan izin pemiliknya).
  • Mayat tidak boleh dikubur di dalam masjid dan tepat yang diwakafkan untuk tidak dijadikan pemakaman.
  • Jika mayat tidak memungkinkan untuk dikubur di dalam tanah, bisa juga sebagai gantinya mayat diletakkan di dalam peti atau di dalam bangunan.
  • Jika seseorang meninggal di kapal dan memungkinkan jasadnya dijaga agar tidak busuk lalu sesampainya di darat segera dikuburkan, maka itu yang harus dilakukan. Namun jika tidak mungkin, maka setelah dikafani mayat bisa ditenggelamkan ke dalam laut sambil diikat dengan sesuatu yang berat agar tenggelam. Jika memungkinkan mayat tidak ditenggelamkan di tempat yang sekiranya langsung dimakan oleh binatang-binatang laut seketika.
  • Jika seseorang tercebur ke dalam sumur dan tidak mungkin diangkat dari dalam sumur, maka sumur itu harus ditutup dan dijadikan kuburnya. Kalau sumur itu milik orang lain maka hendaknya pemiliknya dimintai izin dan kerelaannya.

Adab dan hal-hal mustahab dalam menguburkan mayat

  • Kubur hendaknya digali sedalam tinggi tubuh manusia normal.
  • Meninggikan kuburan empat jari lebih tinggi dari tanah.
  • Membuat kubur yang kuat yang sekiranya tidak mudah rusak.
  • Meletakkan tanda di atas kubur supaya tidak keliru dengan kubur lainnya dan menuliskan nama mayat pada sebuah batu yang diletakkan di atas kepalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *