Istilah Tashowwur dan Tashdiq

Pengetahuan kita terhadap suatu hal, terkadang diiringi dengan justifikasi dan terkadang tidak.

Misalnya saat saya mengatakan “cuaca”. Anda kurang lebih tahu apa itu cuaca. Cuaca yang ada di pikiran Anda saat ini itulah yang disebut Tashowwur, pengetahuan yang tidak ada justifikasi apapun di dalamnya, hanya terbersit sekilas di pikiran Anda begitu saja.

Namun jika saat ini Anda pergi ke luar rumah, lalu Anda melihat cuaca sedang mendung. Pengetahuan Anda tentang cuaca saat ini sedang mendung adalah Tashdiq, karena ada justifikasi “sedang mendung” terhadap “cuaca”.

Berdasarkan contoh ini, bisa dikatakan bahwa pengetahuan Anda terhadap apa itu cuaca adalah Tashowwur; sedangkan pengetahuan Anda akan mendung-nya cuaca hari ini adalah Tashdiq.

Pembagian pengetahuan menjadi Tashowwur dan Tashdiq ini pertama kali dilakukan oleh Abu Nashr bin Tharkhan Farabi, yang kemudian diterima oleh kalangan ahli ilmu Mantiq Muslim. Lalu berdasarkan hal itu ilmu Mantiq yang dikembangkan oleh umat Islam dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama berkaitan dengan sekumpulan Tashowwur atau Tashowwurot, yang kedua berkenaan dengan sekumpulan Tashdiq atau Tashdiqot.

Klik di sini untuk kembali ke halaman utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *