Hukum toilet dan kaitannya dengan bersuci

Ada hal-hal yang wajib, haram, mustahab dan makruh saat kita pergi ke toilet. Berikut penjelasannya:

WAJIB

  • Menutupi aurat agar tidak dilihat orang lain, meskipun orang gila dan anak kecil sekalipun.

HARAM

  • Diharamkan menghadap kiblat atau membelakanginya.

MUSTAHAB (SUNAH)

  • Di tempat tertutup yang tak terlihat orang.
  • Masuk ke toilet dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan terlebih dahulu.
  • Menutupi kepala dengan semacam topi, kain dan lain sebagainya.
  • Menitik beratkan tubuhnya ke kaki sebelah kiri.

MAKRUH

  • Berlama-lamaan di dalam toilet.
  • Menghadap terpaan matahari atau bulan.
  • Menghadap arah mata angin.
  • Berbicara (kecuali terpaksa).
  • Membersihkan kotoran dengan tangan kanan.
  • Makan dan minum di dalam toilet.
  • Buang air kecil berdiri.

Mensucikan tempat keluarnya kotoran

Setelah membuang hajat, kita semestinya membersihkan tempat keluarnya kotoran yang mana beberapa hal di bawah ini perlu diketahui:

  • Tempat keluarnya air seni tidak bisa disucikan oleh apapun selain air.
  • Untuk mensucikan tempat keluarnya air seni, setelah disiram dengan air hingga hilang sisa air seni, cukup sekali saja disiram kembali dengan air suci.
  • Untuk mensucikan anus diperbolehkan dengan selain air seperti batu atau kain minimal sebanyak tiga kali sampai tidak tersisa benda najisnya.

Air dan hukum-hukumnya dalam mensucikan benda najis

Air bisa mensucikan berbagai macam najis. Terkait air, kita perlu memahami macam-macam air.

Air mudhaf dan air mutlaq

Dari segi jenisnya, air dibagi menjadi mudhaf dan mutlaq. Air mudhaf artinya air yang ada tambahan unsur lain. Sedangkan air mutlaq adalah air yang tidak bercampur apapun. Contoh air mutlaq seperti air sumur, air hujan, air sungai dan lain sebagainya. Sedangkan contoh air mudhaf seperti air teh, air kopi, air yang bercampur deterjen, air yang bercampur dengan tinta, air perasan buah, jus, air sirup dan semisalnya, yang sekiranya tidak cukup disebut “air” saja, melainkan disebut air ini dan air itu.

Hukum-hukum air mudhaf

Air mudhaf ini berbeda dengan air mutlaq. Berikut ini adalah hukum yang berlaku bagi air mudhaf:

  • Tidak bisa mensucikan benda najis.
  • Sedikitpun terkena najis, maka seluruhnya menjadi najis.
  • Tidak bisa dipakai untuk wudhu dan mandi besar.

Air kurr dan air qalil

Air dari segi kuantitasnya terbagi menjadi air kurr dan air qalil. Air yang kuantitasnya banyak disebut kurr, sedang yang sedikit disebut qalil.

Untuk mengukur seberapa banyak air kurr, bisa disebut kurr jika memiliki salah satu dari dua kriteria ini:

  1. Total volumenya jika diukur adalah 43 jengkal, misalnya air dalam wadah persegi jika tiap sisinya 35 jengkal maka sudah cukup disebut air kurr.
  2. Beratnya 377.5 kilo.

Sedangkan air qalil adalah air yang kurang dari kuantias air kurr.

Hukum-hukum air qalil

Berikut ini adalah hukum yang berlaku bagi air qalil:

  • Air qalil mirip dengan air mudhaf, jika terkena sedikit najis maka semuanya menjadi najis.
  • Jika air qalil dialirkan dari tempat yang tinggi ke rendah dan mengenai najis, bagian air yang terkena najis menjadi najis pula, kecuali bagian air yang lebih tinggi dan belum terkena najis.
  • Air qalil yang telah digunakan untuk mensucikan najis menjadi najis pula.

Hukum air kurr, air sumur dan air sungai yang mengalir

Air mutlaq selain air qalil, jika terkena najis, selama bau, warna dan rasanya tidak berubah maka tidak akan ikut menjadi najis.

Cara mensucikan najis dengan air

Untuk mensucikan benda yang terkena najis, jika merupakan wadah makanan maka dengan air kurr cukup sekali sedang dengan air qalil harus tiga kali. Jika yang terkena najis bukanlah wadah makanan, jika najisnya tidak dikarenakan air kencing maka dengan air kurr cukup sekali, sedangkan dengan air qalili minimal dua kali; jika najisnya dikarenakan selain air kencing, dengan air kurr cukup sekali dan jika dengan air qalil cukup sekali pula.

Perlu diingat, sebelum mensucikan dengan cara yang disebut di atas, pertama-tama benda najis yang ada harus dihilangkan terlebih dahulu, baru dibasuh dengan air.

Syarat air yang bisa mensucikan najis

Ada 5 syarat:

  1. Harus mutlaq.
  2. Harus suci (tidak najis).
  3. Ketika digunakan untuk mensucikan najis, air tersebut tidak berubah menjadi mudhaf.
  4. Saat digunakan untuk mensucikan, air tidak berubah bau, warna dan rasanya.
  5. Setelah mensucikan, ainun najasah tidak masih tertinggal (benda najis itu sendiri harus sudah hilang).

Hal-hal yang dapat digunakan untuk mensucikan benda yang terkena najis

Di antara hal-hal yang dapat mensucikan najis adalah:

  • Air
  • Tanah
  • Matahari
  • Perubahan bentuk
  • Perpindahan
  • Islam
  • Mengikuti
  • Hilangnya benda najis
  • Karantina hewan pemakan najis
  • Tidak terlihatnya Muslim

Catatan: yang dimaksud mensucikan najis adalah mensucikan benda yang awalnya suci namun terkena benda najis (ainun najasah).

Di bawah ini adalah penjelasan hal-hal di atas:

AIR

Pembahasan tentang air cukup panjang lebar. Silahkan baca penjelasan tentang air di sini.

TANAH

Tanah bisa mensucikan telapak kaki dan alas kaki yang terkena najis jika memang tanah itu sendiri suci dan kita berjalan di atasnya sampai najis yang ada di telapak kaki atau alas kaki hilang (minimal 15 langkah setelah hilangnya ainun najasah).

Yang dimaksud tanah haruslah tanah asli, yakni muka bumi alami, yakni bukan alas yang dibikin manusia sepert jalanan beraspal, lantai berkeramik, lantai kayu dan lain sebagainya.

Benda-benda yang tidak bisa dipindah, seperti pintu, lantai, dinding dan lain sebagainya, jika terkena najis dapat dikeringkan dengan terpaan sinar matahari. Dengan syarat:

  • Najisnya berupa cairan atau basahan yang akhirnya kering dan hilang dengan terpaan sinar matahari. Jika benda najisnya masih ada setelah terkena matahari maka tetap najis.
  • Sebagaimana yang sudah dijelaskan, matahari hanya bisa mensucikan benda-benda yang tak bisa dipindah. Oleh karena itu matahari tidak bisa mensucikan meja dan kursi.
  • Saat matahari mensucikan benda yang terkena najis, benda itu najisnya harus berupa terkena basahan dan ainun najasah sudah dibersihkan terlebih dahulu.
  • Matahari dengan sendirinya mengeringkan, jadi keringnya benda terkena najis bukan dikarenakan tiupan angin.
  1. Perubahan bentuk juga bisa mensucikan. Contohnya:
  2. Mayat yang berubah menjadi tanah setelah lama dikubur.
  3. Biji-bijian yang awalnya najis tumbuh menjadi tanaman.
  4. Kayu najis yang terbakar dan menjadi abu, dan seterusnya..

Jika bagian dari sesuatu (yang awalnya najis) berpindah dan menjadi bagian sesuatu lainnya maka menjadi tidak najis. Contohnya seperti darah manusia yang awalnya najis, saat dihisap nyamuk lalu darah yang ada di perut nyamuk tersebut tidak najis (asalkan nyamuk tidak dipukul tepat saat menghisap darah manusia).

Yang dimaksud adalah, saat orang kafir memeluk Islam, maka ia menjadi suci begitu juga benda-benda di sekitarnya yang awalnya najis karena ia kafir juga menjadi suci.

Maksudnya adalah menjadi sucinya sesuati karena yang lainnya telah menjadi suci. Contohnya anggur (minuman keras) yang awalnya najis saat berubah menjadi cukak maka selain cukak itu menjadi suci, begitu pula bejana atau wadahnya telah menjadi suci juga.

HILANGNYA BENDA NAJIS

Yang dimaksud dengannya adalah dua hal:

Benda najis yang ada di tubuh binatang, misalnya paruh ayam yang awalnya ada najisnya, setelah beberapa lama ayam mematuk benda-benda lainnya dan najisnya sudah tidak terlihat maka paruhnya menadi suci dan tak perlu disucikan dengan apapun.

Dalam tubuh manusia, misalnya dalam mulut, hidung dan telinga. Contohnya saat gusi manusia berdarah, setelah diludahkan dan tidak berdarah lagi mulut menjadi suci, tidak perlu berkumur atau disucikan dengan apapun.

KARANTINA

Yang dimaksud adalah mengurung binatang yang awalnya terbiasa memakan benda najis. Perlu diketahui bahwa binatang yang terbiasa memakan benda najis maka najis juga hukumnya, juga tidak boleh dimakan. Untuk mengatasinya, binatang tersebut harus dikarantina. Selama dikurung binatang tersebut diberi makanan normal.

Berikut ini adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengkarantina binatang:

  • Onta = 40 hari
  • Sapi = 20 hari
  • Kambing = 10 hari
  • Bebek = 5 hari
  • Ayam = 3 hari

Maksudnya adalah, sesuatu yang berkaitan dengan Muslim, saat ia tidak ada, dianggap suci. Contohnya, ada baju yang kita tahu awalnya najis. Baju tersebut milik seorang Muslim. Setelah beberapa hari kita melihat baju itu dan di dalam hati kita mengira ia pasti sudah mensucikannya. Maka baju tersebut dihukumi suci, tidak perlu dikira masih najis.

Bagaimana sesuatu terkena najis

Sesuatu yang tidak najis dapat menjadi najis jika terkena benda-benda najis yang sudah disebutkan sebelumnya.

Jika benda najisnya adalah benda padat dan kering, maka tidak akan membuat benda yang terkenanya menjadi najis. Kecuali jika benda najis tersebut cair (seperti darah) atau basah (benda padat najis yang basah terkena air) lalu menempel ke benda lainnya, maka benda yang terkena menjadi najis.

Sebagai contoh, jika tangan Anda kering, anda bisa memegang benda najis yang kering dan tangan Anda tidak akan najis. Namun jika tangan Anda basah, lalu Anda menyentuh benda najis kering dan menjadi terkena basahan tangan Anda, maka tangan Anda menjadi najis.

Hukum najisnya bangkai

Berikut ini adalah penjelasan tentang najisnya bangkai.

Mengenai bangkai manusia, jika manusia telah meninggal dunia meskipun baru saja meninggal dan badannya masih hangat, najis hukumnya, kecuali:

  • Syahid yang tewas di medan perang (bukan syahid yang meninggalnya di rumah sakit setelah terluka dan dilarikan dari medan perang atau terkena bom teror di luar medan perang).
  • Telah dimandikan dengan 3 macam mandi mayit.

Adapun bangkai binatang (selain anjing dan babi, yang jangankan bangkainya, hidup pun kedua binatang tersebut najis), maka:

  • Jika binatang yang sekiranya menyembur darahnya saat disembelih: seluruh tubuhnya najis kecuali bagian tubuh yang tidak dialiri darah seperti bulu, kuku, tanduk dan semisalnya.
  • Jika binatang yang tidak menyembur darahnya maka: tidak najis bangkai binatang tersebut.

Perlu diketahui bahwa binatang yang halal dimakan, jika mati tidak karena disembelih secara syar’i, maka dihukumi sebagai bangkai. Misalnya jika ada kambing yang mati tertabrak mobil dihukumi dengan bangkai.

Anggota tubuh manusia dan binatang yang terlepas saat masih hidup dihukumi dengan bangkai. Misalnya jika ada anggota tubuh manusia yang diamputasi, setelah terpisah dari tubuhnya maka dihukumi sebagai bangkai.

Apa saja itu benda-benda yang najis?

Ada kaidah yang berbunyi: “Segala sesuatu di dunia ini adalah suci, kecuali 10 benda di bawah ini dan benda-benda yang terkena benda najis tersebut.”

Apa saja 10 benda najis? Mereka adalah:

  1. Air kencing
  2. Kotoran (tahi/tinja)
  3. Mani/sperma
  4. Bangkai
  5. Darah
  6. Anjing
  7. Babi
  8. Minuman memabukkan
  9. Orang kafir
  10. Keringat onta pemakan najis

Penjelasan:

  • Yang dimaksud air kencing dan kotoran yang najis adalah dari manusia dan binatang-binatang yang haram dagingnya dan sekiranya jika dipotong lehernya menyembur darahnya. Air kencing kambing dan kotoran ayam tidak najis karena hewan-hewan tersebut tidak haram dimakan.
  • Mani/sperma yang najis adalah dari manusia dan juga binatang meskipun halal dagingnya yang sekiranya menyembur darahnya jika dipotong lehernya.
  • Tentang bangkai, ada penjelasan yang perlu dibaca di halaman ini.
  • Darah manusia dan hewan yang menyembur darahnya saat disembelih najis hukumnya, seperti darah ayam dan darah kambing. Sedangkan darah hewan lainnya tidak, seperti darah ikan.
  • Benda-benda di atas disebut dengan ainun najasah (benda najis itu sendiri, bukan benda yang terkena najis), atau benda yang secara aslinya memang najis. Sedangkan benda lainnya jika terkena ainun najasah juga disebut najis tapi tidak disebut dengan ainun najasah.

Pentingnya masalah Najis dan Suci (Thaharah)

Amal ibadah paling penting yang kita lakukan sehari-hari adalah shalat. Untuk melakukan shalat, banyak sekali aturan yang berkenaan dengan najis dan sucinya segala hal, yang mana saat kita shalat semuanya harus serba suci. Kalau kita shalat, misalnya mengenakan pakaian yang terkena najis, maka shalat kita tidak sah.

Oleh karena itu penting sekali masalah kesucian diperhatikan.

Lalu apa saja benda-benda yang najis? Anda bisa baca di sini.

Macam-macam hukum fikih

Hukum fikih ada beberapa jenis, pertama hukum yang berkenaan dengan tugas dan kewajiban kita, yang kedua yang berkenaan dengan keadaan sesuatu di sekitar kita.

Hukum-hukum yang berkenaan dengan tugas dan kewajiban disebut Hukum Taklif, yang mana ada 5 macam:

Wajib

Wajib artinya harus dilakukan. Jika tidak dilakukan artinya melanggar perintah agama.

Haram

Artinya tidak boleh dilakukan. Jika dilakukan berarti melanggar aturan agama.

Mustahab atau Sunah

Artinya dianjurkan untuk dikerjakan. Jika dilakukan pelakunya mendapat ganjaran, namun jika ditinggalkan tidak apa-apa.

Makruh

Kebalikan dari mustahab, tidak dianjurkan untuk dilakukan dan lebih baik ditinggalkan.

Mubah

Mubah artinya tidak ghosob. Ghosob adalah menggunakan barang milik orang lain tanpa izin.

Hukum yang berkenaan dengan keberadaan sesuatu

Sedangkan hukum-hukum yang berkenaan dengan keadaan segala sesuatu di sekitar kita, contohnya seperti najis, suci, ghosob atau tidaknya sesuatu dan…

Ada juga pembagian hukum lainnya berkenaan dengan darurat tidaknya kondisi, yang terbagi menjadi dua: hukum asli dan hukum darurat. Hukum asli contohnya “puasa itu wajib”; namun ketika seseorang terkena penyakit tertentu yang jika puasa membahayakan kesehatannya maka yang berlaku adalah hukum darurat, yakni “puasa itu tidak wajib”.

Apa itu Bertaqlid?

Jika seseorang tidak mampu untuk berijtihad ataupun berihtiath, maka satu-satunya kewajiban dia adalah bertaqlid.

Bertaqlid adalah mengikuti apa yang dihukumi oleh seorang ahli agama yang telah mencapai kedudukan ijtihad dan memenuhi syarat untuk diikuti. Ahli agama tersebut istilahnya adalah Marja’ Taqlid atau tempat merujuk orang-orang yang bertaqlid.

Oleh karena itu kita diharuskan memiliki “satu” rujukan fikih pilihan kita. Kita harus menentukan Marja’ Taqlid terbaik di antara Marja’-marja’ Taqlid yang ada lalu mengikuti hukum-hukum fikih yang dijelaskannya.

Apa itu Berihtiath?

Arti Ihtiath adalah berhati-hati. Saat kita tidak mengetahui apakah hal A halal hukumnya ataukah haram, jika kita ingin berhati-hati, kita tidak menghalalkannya yakni meninggalkannya, barang kali hal A tersebut haram hukumnya. Contoh lainnya, jika seseorang tidak tahu saat di hari Jumat apakah wajib melakukan shalat Dhuhur setelah melakukan shalat Jum’at ataukah cukup shalat Jum’at saja dan tidak perlu melakukan shalat Dhuhur, karena ia berhati-hati ia melakukan keduanya, shalat Dhuhur sekaligus shalat Jum’at.

Apa itu Berijtihad?

Berijtihad adalah berusaha menentukan hukum fikih dari suatu masalah berdasarkan metode-metode khusus berdasarkan sumber-sumber agama yang valid.

Tidak semua orang bisa mencapai posisi ijtihad. Diperlukan bertahun-tahun untuk mempelajari metode ijtihad dengan mengikuti program yang sudah ditentukan Hauzah Ilmiah, tempat para ahli agama menyantri.

Sumber-sumber ijtihad di antaranya adalah:

  • Al-Quran.
  • Sunah, yang mencakup perkataan, perbuatan dan persetujuan para Ma’shumin.
  • Akal.
  • Kesepakatan para ahli fikih akan suatu hukum.

Ilmu-ilmu yang harus dikuasai oleh seorang Mujtahid (orang yang ber-Ijtihad) di antaranya adalah:

  • Ilmu-ilmu bahasa Arab, termasuk Sharaf, Nahwu, Ma’ani, Bayan, Badi’, Balaghah, dst
  • Ilmu Mantiq atau logika.
  • Ilmu Ushul fikih.
  • Ilmu Rijal.
  • Ilmu Dirayah.
  • Ulumul Quran, dan seterusnya…

Saat seorang Mujtahid sudah mencapai suatu posisi yang sekiranya orang awam bisa mengikutinya dalam hukum-hukum fikih, maka ia disebut dengan Marja’ Taqlid.

Bagaimana hukum fikih dapat diketahui?

Hukum-hukum fikih hanya dapat diketahui dengan salah satu dari tiga cara:

Kita harus memilih satu dari tiga cara di atas. Kebanyakan dari kita tidak mungkin memilih pilihan pertama dan kedua, oleh karena itu kita harus bertaqlid, yakni merujuk kepada hukum-hukum fikih yang dijelaskan oleh seorang yang sudah ahli dalam bidang fikih.